Tampilkan postingan dengan label Bisnis. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bisnis. Tampilkan semua postingan

Jumat, 08 April 2011

Pisang Kapik, Penganan Incaran Turis

ANIK, pengusaha pisang kapik itu, menjelaskan, setelah puluhan tahun malang melintang, pisang kapik itu sudah menjadi incaran turis. Sejumlah pembeli setia yang sebagian besar berasal dari luar Kota Bukittinggi, Sumatera Barat, termasuk dari Jakarta, selalu menyempatkan diri mampir membeli pisang kapik.
Setiap akhir pekan, tidak kurang dari 500 buah pisang kapik tandas dibeli setiap hari dari setiap tempat berjualan. ”Kalau hari-hari biasa, sekitar 200 buah pisang kapik yang laku,” kata Anik.
Sebuah pisang kapik ditawarkan dengan harga Rp 2.500. Namun, calon pembeli biasanya langsung ditawari dengan harga satu paket, empat buah pisang kapik seharga Rp 10.000.
Kini relatif hanya pada tiga lokasi di kawasan Pasar Atas itulah bisa ditemukan pisang kapik. ”Orang lain pernah juga mencoba untuk membuat usaha seperti ini, tapi kemudian berhenti akibat tidak sabar karena pembeli kan terkadang juga sepi. Perputaran uangnya sulit,” kata Anik.

Sabtu, 26 Maret 2011

Bisnis Tak Harus Naik Kelas

Sukses berbisnis tak harus ditandai dengan naik kelas dari bisnis skala kecil ke menengah. Anda juga bisa dikatakan sukses berbisnis skala kecil asalkan fokus dan menyasar pasar yang spesifik. Apalagi bagi perempuan pebisnis yang masih tetap perlu mempertimbangkan banyak faktor dan perannya sebagai istri dan ibu. Menjalani bisnis skala kecil, asalkan spesifik dan jelas pangsa pasarnya, juga bisa membuat usaha bertahan sambil menyeimbangkan berbagai aktivitas perempuan, setiap harinya.
Menteri Perdagangan Dr Mari Elka Pangestu mengatakan, bisnis kecil namun spesifik juga bisa bertahan. Bisnis seperti ini tak harus menjadi besar, karena yang jauh lebih penting adalah bagaimana bisnis bisa mengubah hidup Anda. Bagaimana agar sukses menjalankan bisnis, disesuaikan dengan kehidupan pribadi, ini jauh lebih penting.

Jumat, 11 Maret 2011

Kreatif dengan Sepatu Lukis

Dulu mereka tidak puas dengan desain sepatu yang mereka beli. Dulu mereka juga mengeluhkan ketidaknyamanan alas kaki. Ketidakpuasan dan keluhan itu berubah menjadi kreativitas dan bisnis.

Dua bersaudara Andina Irvani (20) dan Nerissa Arviana (22) adalah orang-orang yang jeli melihat adanya peluang bisnis dengan kreativitas mereka. Andina dan Nerissa, yang biasa disapa Dina dan Icha, berbisnis sepatu unik yang motifnya dilukis melalui situs www.sepatulukis.com dan Twitter @slight_shoes.

Sepasang sneakers polos yang dilukis Dina, Agustus 2008, menjadi awal bisnis sepatu Spotlight. Dina, yang mahasiswi Desain Komunikasi Visual Universitas Bina Nusantara, ini melukis sneakers dari kanvas putih, atas permintaan Icha, dengan gambar anjing berbadan panjang yang gambarnya menyambung dari sepatu kiri ke kanan. Tak heran kalau gambar di sepatu kiri dan kanan pun berbeda.

”Ternyata sepatu yang dilukis Dina disukai teman-teman kuliah saya. Waktu banyak teman yang bertanya, insting bisnis saya keluar,” kata Icha, yang saat memulai bisnis masih kuliah di Sekolah Bisnis Manajemen Institut Teknologi Bandung.

Melihat peluang tersebut dan dengan modal Rp 1,5 juta, Icha dan Dina menjual sepatu lukis. Memanfaatkan teman-temannya yang jago melukis, Dina meminta bantuan mereka. Promosi dilakukan melalui blog yang akhirnya membuat sepatu lukis makin dikenal banyak orang.